Panen Kebun Buah dan Pulang dari Jiran

Yusuf and Beny | Foto: @sigitprtms

Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini:

Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.

Setelah beberapa kali melihat penampilan Yusuf and Beny, lagu berjudul Do=A inilah yang secara pribadi membuat saya terkagum. Tidak banyak musisi yang beragama Kristen bisa seterus-terang ini menampilkan aspek biblikal dalam lirik dan lagu, bahkan terang mengutip satu ayat utuh dibacakan selayaknya puisi. Hal-hal semacam ini jarang terjadi di Indonesia, dulu muncul ada Letto, atau Bams Samsons yang keperajinan pemilihan diksi lirik berhasil memasukkan aspek-aspek religiositas dalam lagu, sampai akhirnya lagu itu menjadi menarik karena tafsir atas lagunya terus menerus berlipat sesuai apa yang dialami oleh pendengar.

Demikian pula Yusuf and Beny, saya tidak begitu tahu kehidupan pribadinya, seberapa daya religiositasnya berpengaruh dengan kepengarangan lirik apakah ia seorang Kristen yang taat? Apakah ia setiap hari Minggu ke gereja? Tentu hal-hal ini juga tak perlu ditanyakan. Saya ingin mengutip Den Kisot naskah ketoprak Sunda, sebuah karya pastiche dari Don Quijote karya Cervantes, bahwa "...pengarang tidaklah harus lebih penting daripada karyanya”, sebaiknyapun begitu ketika menulis ini saya akhirnya mengabaikan faktor itu dan sama sekali tidak bertanya kepada Beny. Biarlah itu jadi mistik kehidupannya sendiri sebagai sebuah proses pengkaryaan.

Yusuf and Beny kemarin baru saja tour dari Malaysia, ketika saya mendengar kabar itu dalam batin saya terbersit rasa bangga juga, ah, kebun buahNya sudah berbuah. Meski tak begitu dekat secara personal tapi saya sedikit banyak tahu perjuangan dan konsistensi Beny sebagai seorang musisi. Saya yakin tak gampang sebagai subjek musisi untuk mencari kediriannya, kekhas-an genre bahkan performa.

Dalam beberapa percakapan di beberapa lingkar namanya ini disebut-sebut, gambarannya sama sebagai ‘wong tulus’ atau kalau tidak sering dicap sebagai ‘cah entengan’ kalau diajak kolaborasi. Anehnya nama Beny kadang malah muncul di sirkel-sirkel lain seperti gereja, jaringan pendeta atau malah anak-anak freelance survei politik.

Politik diferensiasi ini nampaknya berhasil dikerjakan dengan sungguh oleh Beny. Dengan menggunakan baju Dayak, atau baju putih polosan seperti orang Badui, dengan menggunakan sape Dayak praktis menjadikannya sebagai musisi yang beda dengan lainnya di pasar Solo. Secara metodik saya yakin anak-anak studi etnomusikologi pasti paham dan bisa memainkan sape, tetapi berapa yang memainkannya sebagai ‘main instrument’ untuk jalan hidup sehari-hari? 

Hal ini yang menjadi senjata sekaligus pembeda Beny di kancah musisi folk indie. Yang membuat saya kaget malah ketika tahu awalnya dia tidak langsung memainkan sape, justru malah drum, dan takjub lagi ternyata Beny ini lulus wisuda sebagai sarjana seni dengan pokok bahasan tentang instrumen perkusif (skripsinya tentang kendang jalanan), betapa jauh jarak antara sapek yang diatonis dengan drum atau ketipung.

Hal ini yang membuat saya makin mengerti kenapa akhirnya sape ini digabungkan dengan drum dan alat-alat perkusif lainnya, dari musik instrumental tradisi akhirnya muncul nama Yusuf and Beny. Ketika Yusuf tampil sebagai performer one man show saya malah jadi keinget Christ Martin-nya Coldplay di video klip A Sky Full of Stars sepuluh tahun lalu. Ah, ini juga menarik juga, di Solo tren ini akhirnya ada yang melakoni.

Dari sekian diferensiasi yang terbangun puchline-nya Beny adalah orang yang secara habitus dan spasial tinggal di kota ini, hal ini merupakan modal awal paling bagus karena tidak semua seniman punya modal seperti ini. Tinggal dan sejak kecil lahir di kota ini akan cukup untuk memahami iklim kota Solo yang menurut saya cukup berbeda dengan kota lainnya, kota yang secara atmosfer sangat adem ayem ini membutuhkan strategi berkebudayaan pula, apalagi jika modal-modal yang dimiliki masih terbatas. 

Kolektif, budaya ‘absen rai’ sampai terus ada di beberapa tongkrongan sambil mengembangkan potensi diri sendiri seperti menambah-nambahi IP (intellectual property), yang ketika makin banyak makin besar pula pengaruhnya. Dimulai pencarian sejak pandemi, lalu mulai belajar perekaman secara serius dan menelurkan album Kebun Buah (2022) membuat Beny makin serius dengan jalan hidupnya. Salah satu tonggaknya mungkin hari ini, Yusuf and Beny berhasil tour Malaysia selama sebulan. Hal ini saya kira penting untuk dicatat.

Malam itu setelah pulang dari Malaysia Yusuf and Beny menggelar konser di Rumah Banjarsari Solo. Saya datang dan terkesan karena konsernya ini dibuat sangat kolektif, dengan menggerakkan seluruh kawan ia berhasil mewujudkan semacam perayaan kecil sebagai ucapan syukur atas konser luar negeri yang ia lalui.

Tata panggungnya minimalis tapi unik karena selain properti pentas, ditaruh pula sepeda motor yang selama ini menemani perjalanannya. Di pintu masuk tertera kardus “bayar seikhlasnya” untuk mendukung konser-yang tentu saja tidak mungkin gratis. Beberapa merch tour Malaysia dijual serta beberapa jaringan lain juga menawarkan karya-karya mereka pada deretan lapak yang telah tersedia.


Sesi dialog Yusuf and Beny oleh Luna Kharisma di Rumah Banjarsari | Foto: @sigitprtms

Konser kemudian dimulai, beberapa lagu mengalun dimainkan, nomor-nomor penting seperti N0l, Do=A, dan Yang Sabit. Meski sampai hari ini dalam beberapa part suara Beny masih fals, tapi tetap tak mengurangi kekusyukan malam itu. Setelahnya konser jeda sebentar, lalu berlangsung dialog dipandu Luna Kharisma, percakapan-percakapan epik tentang Malaysia dimulai. Beny menceritakan kemujuran dan sekaligus kekuatan kapital sosialnya ketika mendapatkan tawaran konser di negeri jiran, melobi beberapa kawan untuk membantu persiapan.

Untuk mendukung finansial, moda crowdfunding dilakukan, hal ini mirip yang terjadi ketika Efek Rumah Kaca tahun 2013 melakukan hal serupa untuk membuat konser di Lokananta, kala itu personil ERK membuat proyek bernama Pandaibesi.

Metode mendaur kapital finansial karena emergensi ini juga tak kalah menarik, karena crowdfunding sebenarnya tidak akan berlaku apabila kamu tidak punya nilai tawar, metode ini butuh banyak jaringan dan perkawanan untuk saling dukung satu sama lain yang biasanya harganya jua cukup mahal karena harus nongkrong di sana-sini terus menerus.

Keseruan lainnya membuat penonton makin gerr ketika Beny cerita tentang pengalaman membuat paspor, mengalami terbang pertama ke luar negeri serta bertemu dirjen imigrasi dan dicecar banyak hal. Ada sisi lain lagi yang saya tangkap malam itu, Beny ternyata cukup punya artikulasi bicara lancar, sebelumnya saya mengenalnya sebagai sosok yang tidak banyak omong, lebih terlihat sering melamun atau kalau berbicara cukup berjeda. Pengalaman ini tentu akan penting bagi dirinya suatu hari, karena semakin ampuh manusia harus mampu menceritakan narasi tentang kediriannya sendiri, karya atau pemaknaan akan karya yang selaras dengan pergulatan pikiran pengkarya. Dan bahasa adalah salah satu alat penting untuk mentransfer hal-hal tersebut.

Malam terus berlanjut ketika beberapa lagu dimainkan sekaligus menutup acara. Tepat setelah Beny turun dari panggung hujan deras mengguyur arena Rumah Banjarsari, saya cukup punya waktu untuk berkelakar lebih lama dengan Beny. Saat itulah untuk pertama kali saya menatap betul ketika ia menjelaskan hal-hal yang menurut saya penting seperti apa yang melatarbelakangi banyak hal dalam lagu, atau kenapa sape? Ada pula dialog-dialog yang menurut saya terlalu privasi untuk saya tuliskan di sini. Saya menangkap mata yang tajam itu, mata yang terus menerus harus yakin akan apa yang ia kerjakan, persis seperti lagunya:

 

Dan apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

 

Ya, Ben kamu  telah menerimanya karena kamu juga telah mempercayai dirimu sendiri untuk mengerjakan apa yang kamu ingin kerjakan, mencari, dan mencari terus menerus dengan nalar dan batin yang tulus, hingga karya lagu dan lirik jadi begitu kuat pesannya. Lirik yang kadang saya sendiri berkelakar dengan kawan-kawan bahwa, lagunya Beny ini berat dan mungkin sulit diwujudkan, tapi siapa tahu dengan iman yang cukup manusia-manusia yang mendengarkan lagunya bisa punya andil untuk menebarkan pesan kuat dari lirik-lirik tersebut.

Selamat Ben, salam buat Yusuf dan Samantha. Semoga kebun buah-Nya terus tumbuh subur dan kamu terus hidup dalam kesederhanaan meski tonggak-tonggaknya terus datang.

Surakarta, 26 Februari 2025


Teks: Indra Agusta
Editor: A. Dian & Rudi Agus Hartanto

3 komentar untuk "Panen Kebun Buah dan Pulang dari Jiran"

Anonim 01 Maret, 2025 16:02 Hapus Komentar
Ayeeee
yusuf and beny 02 Maret, 2025 15:18 Hapus Komentar
Matur suwun sekali min🙏🙏🙏🙏
Anonim 07 Maret, 2025 00:03 Hapus Komentar
Padaaat